Kamis, November 12, 2009
Jumat, Juli 10, 2009
Sukses dan kebahagiaan.
Secara ringkas, pesan yang disampaikan Khotib adalah betapa fenomena yang menyedihkan saat ini dimana ukuran pengakuan sukses dlihat dari tampilan pencapaian yang ukurannya materialistis sekali atau bahasa agamisnya, duniawi.
begitu banyak dari masyarakat kita yang memaknai kesuksesan dengan ukuran-ukuran yang sangat materi. 'sukses mereka' berarti teraihnya sasaran-sasaran pengakuan dan kenikmatan atribut posisi sosial (jabatan sosial dan profesi/bisnis dsb.nya), pemilikan simbol-materi (rumah bagus/'representatif', kendaraan-kendaran pribadi, dana safety (deposito di bank, asuransi-asuransi dsb.nya), aksesoris komunikasi, gelar pendidikan formal, penampilan bentuk tubuh dan lain-lain yang mengungkapkan status symbol. Tidak ada yang salah secara fisik, hanya, apakah semua ini apakah memastikan mereka untuk meraih kebahagian hidup? apalagi yang lebih berkwalitas yaitu kebahagiaan 'kehidupan' ?
Sejak kecil kita dimotivasi supaya bisa survive dalam hidup, dengan pengarahan-pengarahan dan pengkondisian oleh semua pihak/lingkungan agar tumbuh menjadi orang yang mumpuni dan produktif dalam hidup dengan membangun persiapan-persiapan (tools kit preparation) melalui pendidikan formal maupun non formal. Agar bisa menstimulasi semangat meraih, ditanamkanlah secara sadar ataupun tidak tentang pentingnya memiliki cita-cita dan impian.

Cita-cita dan impian ditanamkan seacra sistimatis dan gradual melalui gambaran-gambaran konkrit (visualisasi) tentang contoh dan symbol-symbol yang oke yaitu memiliki benda-benda yang berkelas, dan bagi yang belum mampu cukup hanya dengan memiliki yang imitasinya (biasanya mereka yg belum cukup mampu ini akan memaksakan diri). meskipun pendidikan aspek spirtual juga dilibatkan dalam lintasan proses pembentukan ini, entah mengapa seringkali hanya sebagai pelengkap karena minimnya fokus pada kwalitas (lebih pada kwantitas). Maka outputnya adalah manusia-manusia yang pragmatis.
Kemana ujung pencapaian semua yang diatas tadi? pemuasan hasrat untuk kenikmatan dan pengakuan diri! Padahal ini semu. Jadi mereka berlari kencang kadang sampai tersengal-sengal untuk mengejar pengakuan serta materi yang notabene bersifat lenyap/fana. 'Kadangkala' jadi (untuk sikon Indonesia kini; SERING!) terjebak pada mengahalalkan segala cara yang mengorbankan moralitas dan nurani.
Kebahagian sejati (hakiki) tidak akan dicapai dengan pemahaman sikap dan perilaku seperti ini.
re-definisi SUKSES.
Sukses di identikan dengan hasil atau pencapaian yang bisa dinikmati oleh diri maupun sekitar secara emosional (kepuasan) ataupun material (pemenuhan kebutuhan materi). Merujuk pada uraian tulisan diata, maka perlu dicari definisi baru tentang sukses agar sukses dapat memberikan sesuatu yang bernilai kemuliaan, nilai kemanfaatan dan nilai ke-'abadi'-an.
Pertama-tama perlu kesepakatan bahwa sukses harus berkorelasi dengan kebahagian dan niali-nilai harmony, supaya jelas dulu ukuran sukses itu (parameter sukses).
Mohon share nya tentang persepsi sukses menurut versi anda.
Terima kasih.
Sabtu, Juli 04, 2009
Selasa, Oktober 07, 2008
diSAAT LIDAH KELU TERCEKAT
RUH, QALBU, PIKIRAN;
JIWA, TUBUH & OUTERS (semesta)
Enviroment ;
Rg. Kerja AMASAYA, Warbun, tidak begitu dingin
hening
sendiri
Momment;
Sholat dzuhur, Selasa, 15 Juli 2008,
Inspiring;
“disaat LIDAH KELU tercekat !”
Saat “upaya” diri menyerah total;
Mengalir dalam kondisi menon-aktifkan pikiran-hati-dorongan gerak tubuh, membiarkan Semua unsur phisik-pikiran-hati seakan lepas
Dalam keaadaan tanpa usaha dan kehendak
Daya-daya yang berada didalam dan luar diri diterima
Tanpa upaya untuk mengatur-mengendalikan, biarkan bertingkah natural!
Hiruk pikuk datang dan pergi.
Hanya satu keinginan yang masih tersisa………keinginan ‘tuk pasrah lahir-batin,
Demi merasakan kehadiranNYA, menerima petunjuk dan gerak kehendakNYA
Berserah diri total hanya kepada Allah SWT.
Seketika rasa itu hadir,
Rasa diri yang tiada daya dan upaya, rendaaaah………
Rasa diri yang menerima apapun dariMU, tanpa syarat,
Rasa diri yang penuh pengakuan mutlak atas Kemaha Besar-an, Kemaha Mulia-an, Kemaha Kuasa-an, ALLAH AZZA WAJALLA.
Rasa ada aliran yang begitu perkasa merambat sekujur tubuh
Rasa lidah dzahir kelu, tenggorokan tercekat! Tak mampu bersuara dan mengucap Dengan dzahir! Walau sanubari melafazkan ayatMU Serta kalimat-kalimat yang DzikiruLLAH ditingkah suara dzahir yang parau tak beraturan,
Nyaris tanpa konsonan huruf dan kata! Dipenghujung saat tubuh dan jiwa ini tunduk Patuh tak Berdaya diharibaanMU, wahai Allah, wahai CINTA!
Tiba-tiba hamba tersadar!
Karena lidah yang kelu tercekat ! Suara meracau dileher meregang,
Wujud dzahir yang tak selaras dengan lafaz yang sedang berbisik pada jiwa
Jauh dikedalaman sanubari.
Ternyata, faham itu baru sebatas rasa dan asa, dialam fikir dan hati
Yang belum fakir, Jauh dari sadar tentang laras geraknya dzahir dan gerak batin
‘Tuk mewujud perilaku jiwa serta tubuh nan arif-santun!
Aztaghfirullah al-Aziim…….! Ampuniiiii hambaMu ini yaa Allah!
Ya Allah, berilah selalu hambaMU ini bimbingan, petunjuk serta kekuatan
Untuk mengamalkan faham menjadi wujud perilaku diri
Untuk berbuat dengan berkesadaran Insan ikhsan yang taqwa serta istiqomah
Hanya kepadaMU wahai Allah!
Karena Inilah sesungguhnya anugerahMU, “Harmony” kehidupan yang kudamba,
Wahai Allah Tuhanku, Pemilikku serta semesta alam yang Maha Agung!
Lalu,
Kubenamkan dalam-dalam tubuh dan jiwa ini dalam sujud-sujudku
Sujud yang yang ter-usik oleh tangis diri yang kotor berlumur dosa, lalai dan khilaf!
Tangisan bersuara parau,,,,,,,,,…..tanpa konsonan kata dan nada
Hanya Suara sedu-sedan, terisak dalam galaunya diri yang gundah
Akankah penerimaanMU atas jerit-ampunan dan ketakutan diri?
Wahai Allah, sang Maha Pencinta, Maha Bijaksana,
Yang Maha Penerima Taubat setiap makhlukNYA!.
Entah masih berapa panjang jalan ini harus kulalui, dengan kaki yang terantuk-antuk,
Entah berapa banyak waktu yang telah tersia-sia, manusia-manusia yang terluka.
Hanya sedikit yang hamba mulai “ketahui”, Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin!
Engkau sungguh tiada pernah meninggalku.
Hanya hambamu ini yang masih kerap kurang sadari
Bahwa PelukMu senantiasa erat dan penuh kehangatan tak terlukiskan
Dalam energy CINTAMU yang abadi.
wali as-haabil huquuqil waa jibaati ‘alay-ya
wa
wali jami’-il muslimiina wal muslimaat
wal mu’miniina wal mu’miaat
al-ahyaa-i minhum wal amwaat
wa atuubu ilaih.
(3 ~ 7x)
Artinya;
Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung atas segala dosa-dosaku, dan atas dosa kedua orangtuaku, dan atas dosa orang-orang yang memiliki hak kepadaku, dan atas dosa guru-guruku, dan atas dosa orang-orang yang berbuat baik kepadaku, dan atas dosa muslimin dan muslimat dan mukminin dan mukminat; baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dan aku bertaubat kepada Allah.
Kamis, Agustus 28, 2008
tiada dan ADA
aku, tiada! AKU,yang MAHA ADA!
aku tiada, yang ada adalah AKU,
ENGKAUlah tempatku berhamba!
hanya ENGKAU yang berhak sebagai AKU,
bukannya aku yang dho'if ini, .....wahai DIA,
wahai ENGKAU, Wahai yang Maha Berkehendak!
Wahai sang Maha AKU!
Hu'Allah! Laa Illaha Illallah Muhamadan wa'abduhu warasullullah!
Subhanallah Walhamdulillah, walaa ilaaha Ilallahu Allahu Akbar.
laa hawlaa walaa Quwwata illah Billah..............................................

