Jumat, Juli 10, 2009

Sukses dan kebahagiaan.

Saat shalat Jum'at tadi, khotib mengangkat tema "Sukses dan bahagia". sepintas sebuah issue 'klise' dan normatif. Tetapi saat diri semakin menyimak uraian demi uraian, tersentaklah diri ini karena uraian beliau sangat sesuai dengan renungan-renungan diri selama ini.

Secara ringkas, pesan yang disampaikan Khotib adalah betapa  fenomena yang menyedihkan saat ini dimana ukuran pengakuan sukses dlihat dari tampilan pencapaian yang ukurannya materialistis sekali atau bahasa agamisnya, duniawi.

begitu banyak dari masyarakat kita yang memaknai kesuksesan dengan ukuran-ukuran yang sangat materi. 'sukses mereka' berarti teraihnya sasaran-sasaran pengakuan dan kenikmatan atribut posisi sosial (jabatan sosial dan profesi/bisnis dsb.nya), pemilikan simbol-materi (rumah bagus/'representatif', kendaraan-kendaran pribadi, dana safety (deposito di bank, asuransi-asuransi dsb.nya), aksesoris komunikasi, gelar pendidikan formal, penampilan bentuk tubuh dan lain-lain yang mengungkapkan status symbol.
Tidak ada yang salah secara fisik, hanya, apakah semua ini apakah memastikan mereka untuk meraih kebahagian hidup? apalagi yang lebih berkwalitas yaitu kebahagiaan 'kehidupan' ?
Sejak kecil kita dimotivasi supaya bisa survive dalam hidup, dengan pengarahan-pengarahan dan pengkondisian oleh semua pihak/lingkungan agar tumbuh menjadi orang yang mumpuni dan produktif dalam hidup dengan membangun persiapan-persiapan (tools kit preparation) melalui pendidikan formal maupun non formal. Agar bisa menstimulasi semangat meraih, ditanamkanlah secara sadar ataupun tidak tentang pentingnya memiliki cita-cita dan impian.

Cita-cita dan impian ditanamkan seacra sistimatis dan gradual melalui gambaran-gambaran konkrit (visualisasi) tentang contoh dan symbol-symbol yang oke yaitu memiliki benda-benda yang berkelas, dan bagi yang belum mampu cukup hanya dengan memiliki yang imitasinya (biasanya mereka yg belum cukup mampu ini akan memaksakan diri). meskipun pendidikan aspek spirtual juga dilibatkan dalam lintasan proses pembentukan ini, entah mengapa seringkali hanya sebagai pelengkap karena minimnya fokus pada kwalitas (lebih pada kwantitas). Maka outputnya adalah manusia-manusia yang pragmatis.

Kemana ujung pencapaian semua yang diatas tadi? pemuasan hasrat untuk kenikmatan dan pengakuan diri! Padahal ini semu. Jadi mereka berlari kencang kadang sampai tersengal-sengal untuk mengejar pengakuan serta materi yang notabene bersifat lenyap/fana. 'Kadangkala' jadi (untuk sikon Indonesia kini; SERING!)  terjebak pada mengahalalkan segala cara yang mengorbankan moralitas dan nurani.
Kebahagian sejati (hakiki) tidak akan dicapai dengan pemahaman sikap dan perilaku seperti ini.





re-definisi SUKSES.
Sukses di identikan dengan hasil atau pencapaian yang bisa dinikmati oleh diri maupun sekitar secara emosional (kepuasan) ataupun material (pemenuhan kebutuhan materi). Merujuk pada uraian tulisan diata, maka perlu dicari definisi baru tentang sukses agar sukses dapat memberikan sesuatu yang bernilai kemuliaan, nilai kemanfaatan dan nilai ke-'abadi'-an.


Pertama-tama perlu kesepakatan bahwa sukses harus berkorelasi dengan kebahagian dan niali-nilai harmony, supaya jelas dulu ukuran sukses itu (parameter sukses).

Mohon share nya tentang persepsi sukses menurut versi anda.
Terima kasih.

3 komentar:

Lia Y Mutia mengatakan...

Kang Dhian, pagi ini aku melangkah ke rumah mayamu. I like Titian Makna. I like Sukses dan kebahagiaan. Insya Allah kita dalam naungan-Nya.

"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya)lagi Maha Mengetahui. QS 2 :115"

Dhendranu mengatakan...

Lamaaaa juga nulis disini,
rasanya hampir gk ada yg mo ditulis kata otak. ya krn otak kok disuruh nulis ya 'bete' lah! yang "membaca" itu "rasa", yg menulis itu "rasa" yang mengantar asa.
Sukses itu hanyalah sebuah motif agar kita berkiprah sebagai suatu penyaksian kehidupan manusia yang mencapai kondisi (bahasa sombongnya; capai level tertentu).

Dhendranu mengatakan...

neng Lia, terima kasih atas atensi dan apresiasinya, menyejukkan, inspiratif dan menguatkan spirit untuk terus berbagi.

neng Lia, kutipan anda ttg ayat
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya)lagi Maha Mengetahui. QS 2 :115"
sungguh konteks dgn tulisan ini....Huwallaah...Huwallaah...Huwallaah....Hu' Allaah...Wahai DIA Wahai Allah....

jikalah ayat ini telah menjiwa, tampil dalam laku jiwa, insyaAllah laku dzahir akan menjadi bahasa yang santun saat berdialog/interaksi dengan makhluk dan semesta. amin ya Rabbal'alamin.

Hidup itu interaksi lahir batin, komunikasi/dialog lahir batin, komunikasi perlu cara /ilmu tepat guna agar pemilihan "bahasa" (metoda) bisa corect agar terhindar dari fitnah dan kesia-sia-an. Modal utamanya....be humble..agar "cahaya" mudah terserap qalbu.